Koedoes’s Weblog











fsSistem Informasi Geografi (SIG) atau Geographic Information System (GIS) adalah suatu sistem informasi yang dirancang untuk bekerja dengan data yang bereferensi spasial atau berkoordinat geografi atau dengan kata lain suatu SIG adalah suatu sistem basis data dengan kemampuan khusus untuk menangani data yang bereferensi keruangan (spasial) bersamaan dengan seperangkat operasi kerja (Barus dan Wiradisastra, 2000). Sedangkan menurut Anon (2001) Sistem Informasi geografi adalah suatu sistem Informasi yang dapat memadukan antara data grafis (spasial) dengan data teks (atribut) objek yang dihubungkan secara geogrfis di bumi (georeference). Disamping itu, SIG juga dapat menggabungkan data, mengatur data dan melakukan analisis data yang akhirnya akan menghasilkan keluaran yang dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan pada masalah yang berhubungan dengan geografi.

Sistem Informasi Geografis dibagi menjadi dua kelompok yaitu sistem manual (analog), dan sistem otomatis (yang berbasis digital komputer). Perbedaan yang paling mendasar terletak pada cara pengelolaannya. Sistem Informasi manual biasanya menggabungkan beberapa data seperti peta, lembar transparansi untuk tumpang susun (overlay), foto udara, laporan statistik dan laporan survey lapangan. Kesemua data tersebut dikompilasi dan dianalisis secara manual dengan alat tanpa komputer. Sedangkan Sistem Informasi Geografis otomatis telah menggunakan komputer sebagai sistem pengolah data melalui proses digitasi. Sumber data digital dapat berupa citra satelit atau foto udara digital serta foto udara yang terdigitasi. Data lain dapat berupa peta dasar terdigitasi (Nurshanti, 1995).

Pengertian GIS/SIG saat ini lebih sering diterapkan bagi teknologi informasi spasial atau geografi yang berorientasi pada penggunaan teknologi komputer. Dalam hubungannya dengan teknologi komputer, Arronoff (1989) dalam Anon (2003) mendifinisikan SIG sebagai sistem berbasis komputer yang memiliki kemampuan dalam menangani data bereferensi geografi yaitu pemasukan data, manajemen data (penyimpanan dan pemanggilan kembali), memanipulasi dan analisis data, serta keluaran sebagai hasil akhir (output). Sedangkan Burrough, 1986 mendefinisikan Sistem Informasi Geografis (SIG) sebagai sistem berbasis komputer yang digunakan untuk memasukkan, menyimpan, mengelola, menganalisis dan mengaktifkan kembali data yang mempunyai referensi keruangan untuk berbagai tujuan yang berkaitan dengan pemetaan dan perencanaan. Komponen utama Sistem Informasi Geografis dapat dibagi kedalam 4 komponen utama yaitu: perangkat keras (digitizer, scanner, Central Procesing Unit (CPU), hard-disk, dan lain-lain), perangkat lunak (ArcView, Idrisi, ARC/INFO, ILWIS, MapInfo, dan lain-lain), organisasi (manajemen) dan pemakai (user). Kombinasi yang benar antara keempat komponen utama ini akan menentukan kesuksesan suatu proyek pengembangan Sistem Informasi Geografis.

Aplikasi SIG dapat digunakan untuk berbagai kepentingan selama data yang diolah memiliki refrensi geografi, maksudnya data tersebut terdiri dari fenomena atau objek yang dapat disajikan dalam bentuk fisik serta memiliki lokasi keruangan (Indrawati, 2002).

Tujuan pokok dari pemanfaatan Sistem Informasi Geografis adalah untuk mempermudah mendapatkan informasi yang telah diolah dan tersimpan sebagai atribut suatu lokasi atau obyek. Ciri utama data yang bisa dimanfaatkan dalam Sistem Informasi Geografis adalah data yang telah terikat dengan lokasi dan merupakan data dasar yang belum dispesifikasi (Dulbahri, 1993).

Data-data yang diolah dalam SIG pada dasarnya terdiri dari data spasial dan data atribut dalam bentuk digital, dengan demikian analisis yang dapat digunakan adalah analisis spasial dan analisis atribut. Data spasial merupakan data yang berkaitan dengan lokasi keruangan yang umumnya berbentuk peta. Sedangkan data atribut merupakan data tabel yang berfungsi menjelaskan keberadaan berbagai objek sebagai data spasial.

Penyajian data spasial mempunyai tiga cara dasar yaitu dalam bentuk titik, bentuk garis dan bentuk area (polygon). Titik merupakan kenampakan tunggal dari sepasang koordinat x,y yang menunjukkan lokasi suatu obyek berupa ketinggian, lokasi kota, lokasi pengambilan sample dan lain-lain. Garis merupakan sekumpulan titik-titik yang membentuk suatu kenampakan memanjang seperti sungai, jalan, kontus dan lain-lain. Sedangkan area adalah kenampakan yang dibatasi oleh suatu garis yang membentuk suatu ruang homogen, misalnya: batas daerah, batas penggunaan lahan, pulau dan lain sebagainya.

Struktur data spasial dibagi dua yaitu model data raster dan model data vektor. Data raster adalah data yang disimpan dalam bentuk kotak segi empat (grid)/sel sehingga terbentuk suatu ruang yang teratur. Data vektor adalah data yang direkam dalam bentuk koordinat titik yang menampilkan, menempatkan dan menyimpan data spasial dengan menggunakan titik, garis atau area (polygon) (Barus dan Wiradisastra, 2000).

Lukman (1993) menyatakan bahwa sistem informasi geografi menyajikan informasi keruangan beserta atributnya yang terdiri dari beberapa komponen utama yaitu:

1. Masukan data merupakan proses pemasukan data pada komputer dari peta (peta topografi dan peta tematik), data statistik, data hasil analisis penginderaan jauh data hasil pengolahan citra digital penginderaan jauh, dan lain-lain. Data-data spasial dan atribut baik dalam bentuk analog maupun data digital tersebut dikonversikan kedalam format yang diminta oleh perangkat lunak sehingga terbentuk basisdata (database). Menurut Anon (2003) basisdata adalah pengorganisasian data yang tidak berlebihan dalam komputer sehingga dapat dilakukan pengembangan, pembaharuan, pemanggilan, dan dapat digunakan secara bersama oleh pengguna.

2. Penyimpanan data dan pemanggilan kembali (data storage dan retrieval) ialah penyimpanan data pada komputer dan pemanggilan kembali dengan cepat (penampilan pada layar monitor dan dapat ditampilkan/cetak pada kertas).

3. Manipulasi data dan analisis ialah kegiatan yang dapat dilakukan berbagai macam perintah misalnya overlay antara dua tema peta, membuat buffer zone jarak tertentu dari suatu area atau titik dan sebagainya. Anon (2003) mengatakan bahwa manipulasi dan analisis data merupakan ciri utama dari SIG. Kemampuan SIG dalam melakukan analisis gabungan dari data spasial dan data atribut akan menghasilkan informasi yang berguna untuk berbagai aplikasi

4. Pelaporan data ialah dapat menyajikan data dasar, data hasil pengolahan data dari model menjadi bentuk peta atau data tabular. Menurut Barus dan wiradisastra (2000) Bentuk produk suatu SIG dapat bervariasi baik dalam hal kualitas, keakuratan dan kemudahan pemakainya. Hasil ini dapat dibuat dalam bentuk peta-peta, tabel angka-angka: teks di atas kertas atau media lain (hard copy), atau dalam cetak lunak (seperti file elektronik).

Menurut Anon (2003) ada beberapa alasan mengapa perlu menggunakan SIG, diantaranya adalah:

1. SIG menggunakan data spasial maupun atribut secara terintegrasi

2. SIG dapat digunakansebagai alat bantu interaktif yang menarik dalam usaha meningkatkan pemahaman mengenai konsep lokasi, ruang, kependudukan, dan unsur-unsur geografi yang ada dipermukaan bumi.

3. SIG dapat memisahkan antara bentuk presentasi dan basis data

4. SIG memiliki kemampuan menguraikan unsur-unsur yang ada dipermukaan bumi kedalam beberapa layer atau coverage data spasial

5. SIG memiliki kemapuan yang sangat baik dalam memvisualisasikan data spasial berikut atributnya

6. Semua operasi SIG dapat dilakukan secara interaktif

7. SIG dengan mudah menghsilkan peta-peta tematik

8. semua operasi SIG dapat di costumize dengan menggunakan perintah-perintah dalam bahaa script.

9. Peragkat lunak SIG menyediakan fasilitas untuk berkomunikasi dengan perangkat lunak lain

10. SIG sangat membantu pekerjaan yang erat kaitannya dengan bidang spasial dan geoinformatika.

Barus dan Wiradisastra (2000) juga mengungkapkan bahwa SIG adalah alat yang handal untuk menangani data spasial, dimana dalam SIG data dipelihara dalam bentuk digital sehingga data ini lebih padat dibanding dalam bentuk peta cetak, tabel atau dalam bentuk konvensional lainnya yang akhirnya akan mempercepat pekerjaan dan meringankan biaya yang diperlukan.

Sarana utama untuk penanganan data spasial adalah SIG. SIG didesain untuk menerima data spasial dalam jumlah besar dari berbagai sumber dan mengintergrasikannya menjadi sebuah informasi, salah satu jenis data ini adalah data pengindraan jauh. Pengindraan jauh mempunyai kemampuan menghasilkan data spasial yang susunan geometrinya mendekati keadaan sebenarnya dengan cepat dan dalam jumlah besar. Barus dan Wiradisastra (2000) mengatakan bahwa SIG akan memberi nilai tambah pada kemampuan pengindraan jauh dalam menghasilkan data spasial yang besar dimana pemanfaatan data pengindraan jauh tersebut tergantung pada cara penanganan dan pengolahan data yang akan mengubahnya menjadi informasi yang berguna.




gg

ESRI adalah salah satu perusahaan besar di dunia yang bergerak dalam bidang GIS. Sudah banyak aplikasi GIS yang dihasilkan oleh ESRI mulai dari ArcInfo, ArcView, ArcIMS dan juga ArcGIS yang merupakan kompilasi dari berbagai aplikasi GIS yang dibangun oleh ESRI.

Dari sekian banyak teman saya yang bergelut di bidang GIS, hampir semuanya mengakui bahwa ESRI dengan salah satu produknya yang bernama ArcView memberikan keleluasaan bagi para engineer ataupun programmer untuk bekerja. Untuk para engineer, ArcView memberikan kemudahan dalam pengolahan dan juga analisis peta. Sedangkan untuk programmer GIS tersedia Script Avenue untuk mengembangkan extension (sejenis plugin untuk ArcView).

Hampir kebanyakan pengguna aplikasi ArcView tidak menyadari bahwa format vector yang dihasilkan melalui aplikasi ArcView sebenarnya adalah format proprietary open specification. Format yang dihasilkan adalah The ESRI Shape Files (SHP) dimana ini merupakan format vector yang dikeluarkan oleh ESRI. Format ini terdiri dari tiga ekstension file yaitu :

  • Main file: *.shp
  • Index file: *.shx
  • DBase file: *.dbf

Ada beberapa project komersial ataupun open source yang tengah dikembangkan agar bisa membuka dan mengolah vector dalam format ekstension SHP, bahkan ESRI mengeluarkan satu produk tersendiri yang mereka sebut dengan nama MapObjects. Mapobjects adalah seperangkat komponen pemrograman yang dibuat oleh ESRI bagi para developer GIS. Dengan menggunakan MapObjects maka kita dapat membuat sebuah aplikasi GIS yang berdiri sendiri tanpa harus ada ketergantungan aplikasi GIS lainnya.

Semua project GIS yang pernah saya kerjakan semuanya menggunakan MapObjects untuk membuka ektension SHP. Untuk mendapatkan MapObjects ini kita harus merogoh kocek kurang lebih 60 juta rupiah. Sebuah angka yang mahal menurut saya, untung saja project yang saya kerjakan selama ini ditalangi oleh kantor, jadi ya kantor saya yang harus membelinya dong -D.

Nah, kemarin ini saya mendapatkan sebuah link dari rekan untuk aplikasi GIS. Aplikasi ini bernama MapWindow. Sekilas saya baca ternyata MapWindow ini merupakan project open source dalam bidang GIS. Ada tiga komponen penting yang tengah dikembangkan oleh MapWindow yaitu :

Autodesk Tingkatkan Efisiensi Sistem GIS BRR

September 26th, 2007 by rateeh

Jakarta (ANTARA News) – Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh Nias berhasil meningkatkan efisiensi kerja hingga dua kali lipat dan menurunkan biaya pengembangan, implementasi dan penyebaran data geospasialnya hingga 95 persen setelah menggunakan solusi Sistem Informasi Geospasial (GIS) Autodesk.

Melalui sistem GIS berbasis web tersebut, kata Kepala Bagiafh Geospasial BRR Mulyanto Darmawan di Jakarta, Jumat, pihaknya berhasil menekan waktu dan biaya penyebaran data yang diminta klien.

“Biasanya kita membutuhkan waktu tiga hingga empat hari untuk menyiapkan data, belum lagi untuk pencetakannya yang juga tentunya ada biaya yang dikeluarkan,” kata Darmawan ketika memberikan presentasi GIS Autodesk BRR bersama dengan Sales Development Manager Autodesk Asia Srinivasan Venkattappan.

Ditanya berapa nilai rupiah yang bisa ditekan, ia mengaku belum melakukan penghitungan. Pastinya, lanjutnya, proses penyajian data tidak lagi dalam bentuk cetak tapi bisa dinikmati dalam bentuk web. “Itu berarti ongkos untuk mencetak bisa ditekan,” katanya.

BRR menggunakan solusi GIS Autodesk sejak Februari lalu setelah sebelumnya sempat mencoba beberapa software GIS lainnya. Keunggulan Autodesk dibanding dengan lainnya adalah penggunaannya yang mudah.

Software pemetaan web Autodesk yang lengkap memudahkan kami untuk mengunduh data spasial dan peta berdefinisi tinggi dari database pusat. Kami bisa menghemat waktu empat jam setiap harinya,” katanya.

Data-data yang dikumpulkan dalam aplikasi ini semuanya berasal dari database pusat. Dengan mengakses data GIS ini, bisa diketahui kemajuan rehabilitasi dan rekonstruksi suatu wilayah. Data yang bisa dibaca selain soal peta wilayah juga banyaknya rumah yang telah dibangun serta siapa penanggung jawab pembangunannya.

Pola input data dilakukan oleh para NGO yang terlibat dalam rehabilitasi dan rekonstruksi yang khusus telah diberi akses.

Rencananya data-data ini bisa dilihat secara terbuka oleh publik melalui internet. Saat ini semua data baru bisa diakses secara intranet.(*)



{September 26, 2007}   Berkenalan dengan GIS

Dengan teknologi GIS, sebuah instansi tidak hanya dapat membuat perencanaan tata kota dnegan lebih baik saja. Namun, teknologi ini juga dapat membantu menentukan daerah mana saja yang memiliki potensi bencana ataupun menentukan lokasi penyebaran penyakit tertentu.

Bencana yang menimpa Aceh pada 26 Desember 2004 yang lalu telah menjadi sebuah pukulan yang besar bagi rakyat di Indonesia. Sejak tanggal tersebut, semua perhatian seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia tertumpu ke Aceh. Sebagian besar wilayah Aceh hancur total termasuk infrastruktur daerah. Sehingga membangun Aceh kembali menjadi salah satu pekerjaan yang tidak mudah. Banyak bantuan ditawarkan untuk membantu pemerintah. Mulai dari dana, relawan, sampai bantuan pembangunan pun berdatangan. Seperti apa Aceh baru akan dilahirkan dan bagaiamana memutuskan jabang bayi baru tersebut?

Banyak pendapat bermunculan. Mulai dari yang membawa kepentingan sendiri sampai kepentingan bersama. Mulai dari sisi ekonomi, masayarakat, pendidikan, dan banyak lagi telah menjadi masukan bagi pemerintah yang akan membangun Aceh nantinya. Salah satu masukan yang menarik yang mungkin dapat menjadi pertimbangan adalah masukan yang diberikan oleh sebuah forum sipil bernama RS-GIS Forum (Remote Sensing-Geographic Information System).

Bulan Januari lalu, RS-GIS Forum mengadakan sebuah workshop yang berjudul “Identifikasi dan Analisis Kerusakan Aceh-Sumut Pasca Gempa dan Tsunami dengan Teknologi Satelit dan SIG”. Yang kemudian dilanjutan dengan workshop kedua pada bulan berikutnya.

RS-GIS Forum mengusulkan agar perencanaan pembangunan Aceh dilakukan dengan memanfaatkan teknologi GIS. Apa yang dimaksud dengan GIS? Dan konstribusi apa yang dapat dilakukan oleh GIS?

GIS/SIG Bukan Peta
GIS adalah singkatan dari Geographic Information Systems. Dalam bahasa Indonesia sendiri, GIS disingkat SIG yang artinya Sistem Informasi Geografi. Sistem Informasi Geografi adalah sebuah sistem yang dapat membantu memberikan gambaran yang lebih jelas tentang informasi dari sebuah tempat. Hasil akhir SIG dapat juga disebut Smart Maps. Hal ini dikarenakan hasil akhir SIG memang merupakan sebuah peta yang dilengkapi dengan data yang dibutuhkan oleh si pembuatnya. Smart Maps inilah yang nantinya dapat membantu user, baik dalam menganalisis ataupun mengambil keputusan terhadap suatu daerah.

Tidak seperti peta pada umumnya yang tidak memberikan informasi yang lengkap atau tidak jarang memberikan data yang justru tidak dibutuhkan. Peta yang dihasilkan SIG jauh lebih tepat guna dalam pemanfaatannya bagi user tertentu (tergantung pada kebutuhan).

Contohnya, seorang pengusaha yang ingin membuat cabang tokonya, maka pengusaha tersebut akan menganalisis sebuah peta yang berisikan informasi di mana letak konsumen terbanyak dan bagaimana latar belakang sosial ekonomi daerah tersebut. Kemudian dari peta tersebut seorang pengusaha dapat mengetahui posisi atau lokasi terbaik cabangnya. Atau untuk pemerintah daerah dalam membuat perencanaan kota. Seperti yang dilakukan oleh pemerintah DKI Jakarta.

Tentu saja peta SIG yang dimiliki oleh pengusaha dan pemerintah kota akan berbeda meskipun keduanya menggunakan peta dasar yang sama, yaitu kota Jakarta, keduanya memiliki tujuan yang berbeda. Sehingga informasi yang dapat diperoleh pun akan berbeda.

SIG ini sendiri di Indonesia belum terlalu dikenal secara luas. Masih banyak hal yang belum memanfaatkan SIG. Padahal dalam hal membuat perencanaan SIG dapat menjadi alat bantu yang sangat dapat diandalkan.

Berlapis-lapis
Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa peta SIG terdiri dari data yang memang dibutuhkan oleh pembuatnya. Data tersebut disusun secara berlapis di atas peta dari  sebuah lokasi yang akan dianalisis. Kemudian data tersebut disatukan dan memebentuk sebuah pola. Data dapat diperoleh dari mana saja. Bisa dari data hasil penelitian, pengamatan satelit atau dari sebuah pusat database tertentu (seperti sensus penduduk, atau data konsumen). Selama data berbentuk spasial, maka data dapat dipresentasikan secara langsung pada peta. Jika data bukan merupakan data spasial, maka data dapat diletakkan pada peta dengan bentuk simbol-simbol yang diinginkan oleh si pembuat peta.

Yang dimaksud dengan data spasial adalah data yang berisikan informasi visual, seperti gambar pengamatan cuaca di atas peta yang akan digunakan untuk menganalisis sistem pengairan. Sedangkan yang dimaksud dengan data nonspasial adalah data berupa angkaangka, seperti data jumlah penduduk per kelurahan pada wilayah tertentu.

Untuk menghasilkan peta yang tepat guna, maka data yang ada akan diproses dengan menggunakan software SIG. Sofware SIG tersebut akan menyusun peta dengan cara  melapisi satu peta dengan data yang ada secara satu per satu. Oleh sebab itu, selain Anda dapat memeproleh peta yang bertumpuk rapi keseluruhannya atau Anda juga dapat memperoleh peta yang terpisah-pisah menurut lapisan datanya.

Saat ini, keberadaan software SIG dapat diperoleh secara bebas. Dan kepemilikannya tidak dibatasi. Baik atas nama instansi ataupun secara individu. Siapapun dapat mempelajari software dan membuat peta. Peta juga tidak hanya berupa peta luar ruang saja. SIG dapat juga diterapkan untuk melekukan penganalisisan dalam ruang.

SDM yang Tepat
Software SIG memang dapat diandalkan dalam membuat peta, namun peranan manusia dalam membuatnya maupun menganalisis hasilnya sangat besar. Untuk dapat membuat peta yang tepat guna, sesesorang harus terlebih dahulu mengetahui apa saja yang menjadi komponen data yang dibutuhkan. Banyak data yang dapat diperoleh baik secara cuma-cuma maupun membayar. Tetapi memilih data yang tepat tidak selalu pekerjaan yang mudah. Oleh sebab itu, seorang pembuat peta atau ahli SIG harus terlebih dahulu mampu menganalisis sebuah masalah. Kemudian baru ia memilih komponen data yang diperlukan.

Begitu pula dalam mengambil keputusan atau membuat perencanaan. Selain seseorang harus mampu membaca peta SIG, juga harus memiliki kemampuan menganalisis yang tajam. Agar keputusan dan perencanaan yang dilakukannya mengenai sasaran yang dituju.

Oleh sebab itu, untuk menggunakan atau memanfaatkan SIG dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang terlatih dan berkemampuan.

Untungnya, saat ini Indonesia sudah memiliki modal SDM untuk teknologi tersebut dengan tersedianya mata kuliah SIG di universitas dengan jurusan-jurusan tertentu seperti Geografi (UI, ITB, dan sebagainya) ataupun Sistem Informasi.

SIG bukan GPS
SIG dan GPS, keduanya sama-sama berkaitan erat dengan peta. Namun pada dasarnya, kedua teknologi ini tidak sama. Justru GPS menjadi salah satu komponen pendukung dalam SIG. GPS sudah dikenal dengan sangat luas sekarang ini. Manfaat yang diberikan oleh GPS juga sangat banyak. Para nelayan banyak yang menggunakan GPS untuk mengetahui posisi ikan terbaiknya. Polisi banyak mendapatkan pertolongan dalam menemukan kendaraan yang hilang. Atau penyedia jasa cargo yang dapat memuaskan pelanggannya karena dapat melacak sendri paket kiriman miliknya secara otomatis lewat Internet.

Dalam memberikan posisi suatu objek, GPS memiliki kemampuan yang sangat akurat. Hal ini sangat membantu dalam pembuatan peta yang lebih baik pada SIG itu sendiri. Nilai toleransi kesalahan dapat mencapai kurang lebih satu meter.

Sebaliknya, peta SIG yang sangat lengkap, sarat akan informasi yang optimal dapat lebih membantu seorang pengguna GPS. Seseorang tidak hanya dapat menegtahui posisi di mana ia sedang berada, namun orang tersebut dapat juga sekaligus mengetahui apa yang terjadi atau yang dimiliki tanah tempatnya berdiri.

Pemanfaatan yang Luas
Dalam wacana di atas sudah diinformasikan beberapa manfaat yang dapat diberikan oleh SIG. Mulai dari dunia bisnis sampai pemerintahan dapat memanfaatkan teknologi ini.

Jika tadi sudah ada beberapa contoh pemanfaatan luar ruang, maka pemanfaatan yang dapat dilakukan dalam ruang dapat berupa peta ruang sebuah supermarket yang akan menyusun ulang peletakan barang dagangannya.

Atau dapat juga untuk mengatasi masalah peletakan ruang pada rumah sakit, agar tidak terjadi antrian yang menumpuk atau membuat arus pengunjung dalam rumah sakit menjadi lebih baik.

Ini artinya peta yang akan digunakan sebagai landasan data tidak selalu merupakan peta alam saja. Peta tersebut bisa saja dibuat sendiri oleh staf SIG tersebut.

Hasil akhir dari SIG memang berupa Smart Maps. Namun, bukan berarti dalam mempresentasikan data tersebut selalu dalam bentuk peta. Tidak jarang peta tersebut dipresentasikan dengan bantuan bahan pelengkap sebagai dalam bentuk dokumen tertulis, basis data, grafik, ataupun diagram. Hal ini dilakukan agar pemirsa peta tersebut dapat lebih memahami informasi dalam peta.



{September 26, 2007}   SIG UNTUK TATA GUNA LAHAN

September 26th, 2007 by rateeh Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah suatu sistem yang men-capture, mengecek, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisa, dan menampilkan data yang secara spatial (keruangan) mereferensikan kepada kondisi bumi. Teknologi SIG mengintegrasikan operasi-operasi umum database, seperti query dan analisa statistik, dengan kemampuan visualisasi dan analisa yang unik yang dimiliki oleh pemetaan. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dengan Sistem Informasi lainnya yang membuatnya menjadi berguna untuk berbagai kalangan untuk menjelaskan kejadian, merencanakan strategi, dan memprediksi apa yang akan terjadi.gdfh



ImageDaerah Gunung Halu dan sekitarnya, Kabupaten Bandung, merupakan daerah bentang alam pegunungan maupun perbukitan yang sebagian besar memiliki sudut kemiringan lereng yang cukup terjal dengan kondisi geologi, lahan, curah hujan, tanah, keairan yang dapat mendukung proses terjadinya bencana alam geologi. Bencana alam geologi dimaksud lebih dititik beratkan pada bencana yang terkait dengan longsor, gempabumi.

Pada daerah-daerah tersebut di atas sering terjadi proses bencana alam seperti longsor atau gempabumi, banjir atau kekeringan  yang mengakibatkan korban jiwa dan kerugian harta benda yang tidak sedikit. Tanah yang subur dan pelapukan batuan yang relatif tebal telah membuat masyarakat tertarik untuk bermukim pada daerah lereng pegunungan, bahkan sering memotong kaki tebing untuk memperluas lahannya. Di lain pihak mereka tidak menyadari bahwa lahan yang mereka manfaatkan merupakah wilayah rawan bencana alam.

Bencana alam sulit diprediksi kapan akan terjadinya dan berjalan dengan sangat cepat sehingga masyarakat tidak sempat menghindar dari bencana alam tersebut. Salah satu upaya guna meredam jumlah korban dan kerugian harta benda adalah dengan menumbuhkan tingkat kesadaran masyarakat tentang bahaya bencana alam dengan cara menyediakan informasi bencana alam atau sistem informasi lainnya.
Data hasil penelitian dan pemetaan peneliti terdahulu di daerah ini telah banyak terkumpul di isntansi-intansi terkait seperti peta gerakan, geologi, kelas lereng, lahan, isoseismal, curah hujan, dan data  lainnya. Dengan memanfaatkan teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG/GIS), kita dapat melakukan analisis spasial dengan cara tumpang susun (mengoverlaykan) peta-peta di atas dengan sistem pembobotan untuk menghasilkan peta tingkat kerawanan bencana alam geologi yang diklasifikasi kedalam tingkat Sangat Rawan Bencana, Rawan Bencana, Agak Rawan dan Tidak Rawan.

Peta hasil analisis spasial di atas, diharapkan  menjadi sumber informasi masyarakat setempat mengenai kerawanan bencana alam, juga bagi pemerintah setempat dapat digunakan untuk perencanaan pembangunan dan perencanaan penataan ruang yang terhindar dari risiko bencana alam  atau setidaknya diminimumkan. Oleh karena itu, usaha melakukan analisis-analisis spasial bahaya bencana alam geologi di suatu daerah menjadi penting dalam upaya Mitigasi Bencana Alam Geologi maupun Pengembangan/pembangunan wilayah yang berwawasan lingkungan. Tentu saja untuk menghasilkan informasi spasial  yang akurat perlu didukung data/peta yang lengkap dan akurat juga.



Teknologi Informasi Untuk Meningkatkan Kualitas Demokrasi

e-DemocratieSolution [Solusi e-Demokrasi] adalah Solusi Software Untuk Komisi Pemilihan Umum [KPU] sebagai penyelenggara Pemilihan Umum [Pemilu] dan KPU Daerah [KPUD] sebagai penyelenggara Pemilihan Kepala Daerah [Pilkada], yang mencakup Aplikasi Portal dan 8 Aplikasi Utama, yang merupakan pengembangan lebih lanjut dari produk software yang telah mendapatkan penghargaan APICTA 2003 kategori Research & Development.

Salah satu tolak ukur baik tidaknya pelaksanaan demokrasi adalah pelaksanaan Pilkada. Pilkada harus dilaksanakan secara Langsung, Umum, Bebas, dan Rahasia, serta dilandasi dengan semangat Jujur dan Adil. Oleh karenanya, pelaksanaan Pilkada perlu dikelola dengan baik dan benar.

Pemanfaatan Teknologi Informasi (TI) dalam mendukung berbagai kegiatan sehari-hari di KPUD saat ini belum optimal. Sementara itu, KPU dituntut untuk menjadi suatu institusi yang modern, sesuai dengan visi dan misi KPU. Oleh karena itu diperlukan suatu sistem yang dapat membantu KPU khususnya KPUD untuk menunjang keberhasilan Pilkada, terutama dalam proses penghitungan suara dan penetapan kepala daerah. Dengan memanfaatkan TI maka hasil penghitungan suara pilkada akan dapat diketahui dengan lebih cepat, sehingga pelaksanaan pilkada secara keselurahan dapat sesuai dengan jadual yang telah ditetapkan.

Selain itu, perkembangan TI dewasa ini dapat dimanfaatkan untuk membantu administrasi pelaksanaan tugas-tugas KPUD. Dengan menggunakan Teknologi Informasi dan dengan memanfaatkan komputer dan jaringan yang digunakan pada Pemilu 2004, data dapat disimpan lebih rapi dan ditampilkan kembali dengan mudah dan cepat apabila diperlukan. Dari data tersebut dapat diolah menjadi suatu informasi yang dapat disebarluaskan kepada publik, sehingga publik bisa mendapatkan informasi yang diperlukan secara cepat, akurat, dimanapun dan kapanpun.

Download Flyer Aplikasi e-Democracy

MANFAAT

Menyediakan Sistem Informasi pendukung kerja KPU & KPUD sebagai penyelenggara Pemilu dan Pilkada yang komprehensif dan terpadu.
Data dapat disimpan rapi dan ditampilkan kembali dengan mudah dan cepat apabila diperlukan.
Mendukung mewujudkan visi dari KPU yaitu menjadi penyelenggara Pemilu/Pilkada yang independen, non-partisan & imparsial, serta profesional sehingga hasil kerjanya dipercaya oleh semua pihak, baik dari dalam maupun dari luar negeri.
Mendukung terselenggaranya Pemilu dan Pilkada yang lebih berkualitas dengan partisipasi masyarakat seluas-luasnya atas dasar prinsip-prinsip demokrasi, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil, dan beradab.

Meningkatkan transparansi penyelengaraan Pemilu dan Pilkada.

MODUL – MODUL

Aplikasi yang diperlukan oleh KPU / KPUD akan meliputi 4 domain utama, yaitu:

Website / Portal Publik dan Sistem Komunikasi KPU / KPUD.
Merupakan kumpulan dari aplikasi yang berkaitan dengan proses koordinasi, komunikasi, kooperasi dan kolaborasi antar berbagai stakeholder di dalam KPU / KPUD sehingga terjadi suatu jalinan kerja yang efektif dan efisien. Terdapat 5 kelompok aplikasi di dalam domain sistem ini, yaitu masing-masing adalah:

Portal dan Manajemen Konten (Polling, News Generator). Merupakan aplikasi yang berbasis web dan internet yang memudahkan berbagai pihak untuk melakukan akses terhadap data, informasi, dan pengetahuan yang diinginkan. Serta dapat melakukan polling atau jejak pendapat secara online melalui jaringan internet. Dan dapat juga dipergunakan untuk menyusun, menyimpan dan menyebarkan berbagai berita atau informasi terkait dengan aktivitas organisasi sehari-hari.

Fasilitas e-Mail. Merupakan aplikasi yang bertanggung jawab terhadap mekanisme pengelolaan surat elektronik dalam organisasi KPU / KPUD dan stakeholdernya.

Fasilitas Chatting. Merupakan aplikasi yang menyediakan fasilitas percakapan langsung (real-time) secara online di internet antara berbagai pihak yang berkepentingan.

Fasilitas Forum Diskusi. Merupakan aplikasi yang khusus menyediakan fasilitas diskusi dari berbagai individu maupun kelompok yang dilakukan secara online dengan memanfaatkan medium internet.

Fasilitas Kalender Kerja. Merupakan aplikasi yang menyediakan fasilitas terkait dengan penjadwalan aktivitas sehari-hari semacam pertemuan, undangan, momen khusus dan lain sebagainya.
Sistem Informasi Operasional KPU / KPUD.

Merupakan sistem informasi tingkat operasional. Sistem ini mendukung kegiatan operasional dengan merekam aktifitas dan transaksi paling dasar dari kegiatan kebutuhan dasar organisasi. Sistem ini mendukung operasional KPU / KPUD dalam proses Pemilu maupun Pemilihan Kepala Daerah. Terdapat 8 kelompok aplikasi di dalam domain sistem ini, yaitu masing-masing adalah:

Sistem Informasi Administrasi (SIADMIN). Merupakan aplikasi yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan sepesifik KPU / KPUD sehubungan dengan proses pendataan wilayah dan TPS.

Sistem Informasi Pendaftaran Penduduk dan Pemilih (SITARLIH). Merupakan aplikasi yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan sepesifik KPU / KPUD sehubungan dengan proses pendataan penduduk dan pemilih berdasarkan hasil dari P4B (Pendaftaran Pemilih dan Pencatatan Penduduk Berkelanjutan).

Sistem Informasi Organisasi Penyelenggara (SIOGARA). Merupakan aplikasi yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan sepesifik KPU / KPUD sehubungan dengan proses pendataan organisasi penyelenggara Pemilu/Pilkada.

Sistem Informasi Parpol (SIPARPOL). Merupakan aplikasi yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan sepesifik KPU / KPUD sehubungan dengan proses pendataan Partai Politik peserta Pemilu/Pilkada.

Sistem Informasi Calon (SILON). Merupakan aplikasi yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan sepesifik KPU / KPUD sehubungan dengan proses pendataan Calon Kepala Daerah.

Sistem Informasi Penghitungan Suara (SITUNG). Merupakan aplikasi yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan sepesifik KPU / KPUD sehubungan dengan proses perekaman penghitungan suara hasil Pilkada.

Sistem Informasi Penetapan Terpilih (SITAPLIH). Merupakan aplikasi yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan sepesifik KPU / KPUD sehubungan dengan proses penetapan calon terpilih.

Sistem Informasi Tabulasi Hasil Pemilihan (SITAMPIL). Merupakan aplikasi yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan sepesifik KPU / KPUD sehubungan dengan proses penampilan hasil-hasil pemungutan suara, yang meliputi: Tabulasi Status TPS, Tabulasi Progres TPS, Tabulasi Hasil Penghitungan Suara per Wilayah, Tabulasi Penghitungan Suara per Daerah Pemilihan, Tabulasi Peringkat, Tabulasi Resume Surat Suara.
Sistem Informasi Adminsitrasi KPU / KPUD.

Merupakan kumpulan dari aplikasi yang berkaitan dengan proses pengumpulan, pengorganisasian, penstrukturan, penyimpanan dan pendistribusian data informasi administrasi misalnya seperti data kepegawaian, perlengkapan, maupun kearsipan. Terdapat 3 kelompok aplikasi di dalam domain sistem ini, yaitu masing-masing adalah:

Sistem Informasi Manajemen SDM. Merupakan aplikasi yang berfungsi untuk membantu proses-proses terkait dengan aktivitas Sumber Daya Manusia (SDM), terutama yang berkaitan dengan aktivitas perencanaan, pengelolaan dan pengawasan aktifitas SDM.

Sistem Informasi Manajemen Perlengkapan. Merupakan aplikasi yang secara khusus berfungsi untuk membantu proses pengelolaan rantai pasokan berbagai sumberdaya fisik maupun digital yang dibutuhkan oleh organisasi, dari sumbernya (pemesanan) sampai dengan proses implementasi (pemakaian).

Sistem Informasi Manajemen Kearsipan. Merupakan aplikasi yang menangani berbagai proses pengarsipan di dalam organisasi KPU / KPUD, seperti pengelolaan surat masuk dan keluar.
Sistem Informasi Eksekutif KPU / KPUD.

Merupakan Executive Information System (EIS) bagi anggota KPU / KPUD. EIS adalah sistem informasi berbasis komputer yang didesain agar manajer tingkat tinggi dapat mengakses informasi yang relevan dengan aktifitas manajemen mereka.
Sistem Informasi Eksekutif (SIE) ini terdiri dari SIE pelaksanaan Pilkada dan SIE Administrasi Perkantoran. SIE pelaksanaan Pilkada terdiri atas proses Pendataan, Persiapan, Pemungutan Suara, dan Pasca Pilkada. Sedangkan SIE Administrasi Perkantoran terdiri atas sistem Perlengkapan, Kepegawaian, Kearsipan. SIE ini sebagai sistem monitoring yang dilengkapi dengan tampilan grafis.

FITUR UTAMA

Berikut adalah beberapa kemampuan sistem yang dimiliki, yaitu :
Sinkronisasi & Konsolidasi Data pada sistem tersebar berbasis internetworking, dari Kecamatan ke Tingkat Kabupaten, Tingkat Provinsi, dan ke Tingkat Pusat, sehingga data baik yang berupa basisdata, file, dan folder dapat diakses dengan mudah di setiap titik pada sistem tersebar tersebut.

Sistem ini dikembangkan dengan mengadopsi teknik propagasi perubahan, dengan menggunakan algorithma Rolling Checksum & Secure Hashing, yang sangat efisien dalam penggunaan jalur datanya, sehingga bermanfaat untuk menekan biaya koneksi internet, memperbaiki kondisi akses internet yang rendah bandwidth, latensi tinggi, serta kehandalan internet yang kurang, dimana hal tersebut merupakan tipikal permasalahan jaringan internet di Indonesia. Penggunaan mekanisme distributed event ordering untuk memberikan penjaminan serialisasi perubahan data yang terjadi dalam sistem terdistribusi, dan penggunaan teknik sinkronisasi dua arah dan sinkronisasi terpartisi vertical/horizontal untuk sinkronisasi multipoint.

Mirroring/backup [Disaster Recovery] Data dan Aplikasi. Sistem mirroring ini juga dikembangkan dengan mengadopsi teknik propagasi perubahan, Rolling Checksum & Secure Hashing untuk mendeteksi bagain data yang berubah, secara aman dan cepat, sehingga menjadi sangat efisien dalam penggunaan jalur datanya. Dengan mirroing ini akan meningkatkan keamanan dan ketersediaan data (availability), dari berbagai gangguan yang mungkin terjadi, serta menurunkan downtime sistem jika terjadi gangguan.
Sistem Clustering. Dengan sistem ini, jika terjadi kendala tidak berjalannya aplikasi pada sistem utama, maka sistem backup (yang sama) segera dapat menggantikan perannya, sehingga ketersediaan (availability) aplikasi lebih tinggi dan sistem menjadi lebih handal (reliability).
Security Enhancement System, merupakan sistem untuk manajemen otorisasi dan sesi yang dibangun untuk dapat memberikan penjaminan yang tinggi terhadap interkoneksi yang terjadi pada suatu aplikasi berbasis internet. Sistem ini dibangun dengan memanfaatkan Secure Socket Layers (SSL) dan Web Services sebagai dasar teknologinya sehingga dapat diakses dari mana saja dengan mudah dan aman. Selanjutnya, transfer data dilakukan secara ter-enkripsi melalui protokol yang aman.
Terintegrasi dengan sistem yang lain. e-Democracy ini terintegrasi dengan paket aplikasi untuk Pemerintahan lainnya, misalnya dengan e-GovPortal (Sistem Informasi Manajemen Portal & Content Management System), sehingga masyarakat dapat melihat data hasil pemilihan yang up-to-date melalui portal Pemerintah Daerah.



Teknologi Informasi Untuk Meningkatkan Kualitas Demokrasi
e-DemocratieSolution [Solusi e-Demokrasi] adalah Solusi Software Untuk Komisi Pemilihan Umum [KPU] sebagai penyelenggara Pemilihan Umum [Pemilu] dan KPU Daerah [KPUD] sebagai penyelenggara Pemilihan Kepala Daerah [Pilkada], yang mencakup Aplikasi Portal dan 8 Aplikasi Utama, yang merupakan pengembangan lebih lanjut dari produk software yang telah mendapatkan penghargaan APICTA 2003 kategori Research & Development.

Salah satu tolak ukur baik tidaknya pelaksanaan demokrasi adalah pelaksanaan Pilkada. Pilkada harus dilaksanakan secara Langsung, Umum, Bebas, dan Rahasia, serta dilandasi dengan semangat Jujur dan Adil. Oleh karenanya, pelaksanaan Pilkada perlu dikelola dengan baik dan benar.

Pemanfaatan Teknologi Informasi (TI) dalam mendukung berbagai kegiatan sehari-hari di KPUD saat ini belum optimal. Sementara itu, KPU dituntut untuk menjadi suatu institusi yang modern, sesuai dengan visi dan misi KPU. Oleh karena itu diperlukan suatu sistem yang dapat membantu KPU khususnya KPUD untuk menunjang keberhasilan Pilkada, terutama dalam proses penghitungan suara dan penetapan kepala daerah. Dengan memanfaatkan TI maka hasil penghitungan suara pilkada akan dapat diketahui dengan lebih cepat, sehingga pelaksanaan pilkada secara keselurahan dapat sesuai dengan jadual yang telah ditetapkan.

Selain itu, perkembangan TI dewasa ini dapat dimanfaatkan untuk membantu administrasi pelaksanaan tugas-tugas KPUD. Dengan menggunakan Teknologi Informasi dan dengan memanfaatkan komputer dan jaringan yang digunakan pada Pemilu 2004, data dapat disimpan lebih rapi dan ditampilkan kembali dengan mudah dan cepat apabila diperlukan. Dari data tersebut dapat diolah menjadi suatu informasi yang dapat disebarluaskan kepada publik, sehingga publik bisa mendapatkan informasi yang diperlukan secara cepat, akurat, dimanapun dan kapanpun.

Download Flyer Aplikasi e-Democracy

MANFAAT

Menyediakan Sistem Informasi pendukung kerja KPU & KPUD sebagai penyelenggara Pemilu dan Pilkada yang komprehensif dan terpadu.
Data dapat disimpan rapi dan ditampilkan kembali dengan mudah dan cepat apabila diperlukan.
Mendukung mewujudkan visi dari KPU yaitu menjadi penyelenggara Pemilu/Pilkada yang independen, non-partisan & imparsial, serta profesional sehingga hasil kerjanya dipercaya oleh semua pihak, baik dari dalam maupun dari luar negeri.
Mendukung terselenggaranya Pemilu dan Pilkada yang lebih berkualitas dengan partisipasi masyarakat seluas-luasnya atas dasar prinsip-prinsip demokrasi, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil, dan beradab.

Meningkatkan transparansi penyelengaraan Pemilu dan Pilkada.

MODUL – MODUL

Aplikasi yang diperlukan oleh KPU / KPUD akan meliputi 4 domain utama, yaitu:

Website / Portal Publik dan Sistem Komunikasi KPU / KPUD.
Merupakan kumpulan dari aplikasi yang berkaitan dengan proses koordinasi, komunikasi, kooperasi dan kolaborasi antar berbagai stakeholder di dalam KPU / KPUD sehingga terjadi suatu jalinan kerja yang efektif dan efisien. Terdapat 5 kelompok aplikasi di dalam domain sistem ini, yaitu masing-masing adalah:

Portal dan Manajemen Konten (Polling, News Generator). Merupakan aplikasi yang berbasis web dan internet yang memudahkan berbagai pihak untuk melakukan akses terhadap data, informasi, dan pengetahuan yang diinginkan. Serta dapat melakukan polling atau jejak pendapat secara online melalui jaringan internet. Dan dapat juga dipergunakan untuk menyusun, menyimpan dan menyebarkan berbagai berita atau informasi terkait dengan aktivitas organisasi sehari-hari.

Fasilitas e-Mail. Merupakan aplikasi yang bertanggung jawab terhadap mekanisme pengelolaan surat elektronik dalam organisasi KPU / KPUD dan stakeholdernya.

Fasilitas Chatting. Merupakan aplikasi yang menyediakan fasilitas percakapan langsung (real-time) secara online di internet antara berbagai pihak yang berkepentingan.

Fasilitas Forum Diskusi. Merupakan aplikasi yang khusus menyediakan fasilitas diskusi dari berbagai individu maupun kelompok yang dilakukan secara online dengan memanfaatkan medium internet.

Fasilitas Kalender Kerja. Merupakan aplikasi yang menyediakan fasilitas terkait dengan penjadwalan aktivitas sehari-hari semacam pertemuan, undangan, momen khusus dan lain sebagainya.
Sistem Informasi Operasional KPU / KPUD.

Merupakan sistem informasi tingkat operasional. Sistem ini mendukung kegiatan operasional dengan merekam aktifitas dan transaksi paling dasar dari kegiatan kebutuhan dasar organisasi. Sistem ini mendukung operasional KPU / KPUD dalam proses Pemilu maupun Pemilihan Kepala Daerah. Terdapat 8 kelompok aplikasi di dalam domain sistem ini, yaitu masing-masing adalah:

Sistem Informasi Administrasi (SIADMIN). Merupakan aplikasi yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan sepesifik KPU / KPUD sehubungan dengan proses pendataan wilayah dan TPS.

Sistem Informasi Pendaftaran Penduduk dan Pemilih (SITARLIH). Merupakan aplikasi yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan sepesifik KPU / KPUD sehubungan dengan proses pendataan penduduk dan pemilih berdasarkan hasil dari P4B (Pendaftaran Pemilih dan Pencatatan Penduduk Berkelanjutan).

Sistem Informasi Organisasi Penyelenggara (SIOGARA). Merupakan aplikasi yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan sepesifik KPU / KPUD sehubungan dengan proses pendataan organisasi penyelenggara Pemilu/Pilkada.

Sistem Informasi Parpol (SIPARPOL). Merupakan aplikasi yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan sepesifik KPU / KPUD sehubungan dengan proses pendataan Partai Politik peserta Pemilu/Pilkada.

Sistem Informasi Calon (SILON). Merupakan aplikasi yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan sepesifik KPU / KPUD sehubungan dengan proses pendataan Calon Kepala Daerah.

Sistem Informasi Penghitungan Suara (SITUNG). Merupakan aplikasi yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan sepesifik KPU / KPUD sehubungan dengan proses perekaman penghitungan suara hasil Pilkada.

Sistem Informasi Penetapan Terpilih (SITAPLIH). Merupakan aplikasi yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan sepesifik KPU / KPUD sehubungan dengan proses penetapan calon terpilih.

Sistem Informasi Tabulasi Hasil Pemilihan (SITAMPIL). Merupakan aplikasi yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan sepesifik KPU / KPUD sehubungan dengan proses penampilan hasil-hasil pemungutan suara, yang meliputi: Tabulasi Status TPS, Tabulasi Progres TPS, Tabulasi Hasil Penghitungan Suara per Wilayah, Tabulasi Penghitungan Suara per Daerah Pemilihan, Tabulasi Peringkat, Tabulasi Resume Surat Suara.
Sistem Informasi Adminsitrasi KPU / KPUD.

Merupakan kumpulan dari aplikasi yang berkaitan dengan proses pengumpulan, pengorganisasian, penstrukturan, penyimpanan dan pendistribusian data informasi administrasi misalnya seperti data kepegawaian, perlengkapan, maupun kearsipan. Terdapat 3 kelompok aplikasi di dalam domain sistem ini, yaitu masing-masing adalah:

Sistem Informasi Manajemen SDM. Merupakan aplikasi yang berfungsi untuk membantu proses-proses terkait dengan aktivitas Sumber Daya Manusia (SDM), terutama yang berkaitan dengan aktivitas perencanaan, pengelolaan dan pengawasan aktifitas SDM.

Sistem Informasi Manajemen Perlengkapan. Merupakan aplikasi yang secara khusus berfungsi untuk membantu proses pengelolaan rantai pasokan berbagai sumberdaya fisik maupun digital yang dibutuhkan oleh organisasi, dari sumbernya (pemesanan) sampai dengan proses implementasi (pemakaian).

Sistem Informasi Manajemen Kearsipan. Merupakan aplikasi yang menangani berbagai proses pengarsipan di dalam organisasi KPU / KPUD, seperti pengelolaan surat masuk dan keluar.
Sistem Informasi Eksekutif KPU / KPUD.

Merupakan Executive Information System (EIS) bagi anggota KPU / KPUD. EIS adalah sistem informasi berbasis komputer yang didesain agar manajer tingkat tinggi dapat mengakses informasi yang relevan dengan aktifitas manajemen mereka.
Sistem Informasi Eksekutif (SIE) ini terdiri dari SIE pelaksanaan Pilkada dan SIE Administrasi Perkantoran. SIE pelaksanaan Pilkada terdiri atas proses Pendataan, Persiapan, Pemungutan Suara, dan Pasca Pilkada. Sedangkan SIE Administrasi Perkantoran terdiri atas sistem Perlengkapan, Kepegawaian, Kearsipan. SIE ini sebagai sistem monitoring yang dilengkapi dengan tampilan grafis.

FITUR UTAMA

Berikut adalah beberapa kemampuan sistem yang dimiliki, yaitu :
Sinkronisasi & Konsolidasi Data pada sistem tersebar berbasis internetworking, dari Kecamatan ke Tingkat Kabupaten, Tingkat Provinsi, dan ke Tingkat Pusat, sehingga data baik yang berupa basisdata, file, dan folder dapat diakses dengan mudah di setiap titik pada sistem tersebar tersebut.

Sistem ini dikembangkan dengan mengadopsi teknik propagasi perubahan, dengan menggunakan algorithma Rolling Checksum & Secure Hashing, yang sangat efisien dalam penggunaan jalur datanya, sehingga bermanfaat untuk menekan biaya koneksi internet, memperbaiki kondisi akses internet yang rendah bandwidth, latensi tinggi, serta kehandalan internet yang kurang, dimana hal tersebut merupakan tipikal permasalahan jaringan internet di Indonesia. Penggunaan mekanisme distributed event ordering untuk memberikan penjaminan serialisasi perubahan data yang terjadi dalam sistem terdistribusi, dan penggunaan teknik sinkronisasi dua arah dan sinkronisasi terpartisi vertical/horizontal untuk sinkronisasi multipoint.

Mirroring/backup [Disaster Recovery] Data dan Aplikasi. Sistem mirroring ini juga dikembangkan dengan mengadopsi teknik propagasi perubahan, Rolling Checksum & Secure Hashing untuk mendeteksi bagain data yang berubah, secara aman dan cepat, sehingga menjadi sangat efisien dalam penggunaan jalur datanya. Dengan mirroing ini akan meningkatkan keamanan dan ketersediaan data (availability), dari berbagai gangguan yang mungkin terjadi, serta menurunkan downtime sistem jika terjadi gangguan.
Sistem Clustering. Dengan sistem ini, jika terjadi kendala tidak berjalannya aplikasi pada sistem utama, maka sistem backup (yang sama) segera dapat menggantikan perannya, sehingga ketersediaan (availability) aplikasi lebih tinggi dan sistem menjadi lebih handal (reliability).
Security Enhancement System, merupakan sistem untuk manajemen otorisasi dan sesi yang dibangun untuk dapat memberikan penjaminan yang tinggi terhadap interkoneksi yang terjadi pada suatu aplikasi berbasis internet. Sistem ini dibangun dengan memanfaatkan Secure Socket Layers (SSL) dan Web Services sebagai dasar teknologinya sehingga dapat diakses dari mana saja dengan mudah dan aman. Selanjutnya, transfer data dilakukan secara ter-enkripsi melalui protokol yang aman.
Terintegrasi dengan sistem yang lain. e-Democracy ini terintegrasi dengan paket aplikasi untuk Pemerintahan lainnya, misalnya dengan e-GovPortal (Sistem Informasi Manajemen Portal & Content Management System), sehingga masyarakat dapat melihat data hasil pemilihan yang up-to-date melalui portal Pemerintah Daerah.



CV. Djamboe WebDesign, yang bergerak dalam pembuatan program-program berbasis web, mengembangkan sebuah sistem informasi perpustakaan berbasis web, yang bisa digunakan untuk jaringan lokal (intranet) atau pun Internet, yang dapat digunakan baik pada perpustakaan kampus maupun perpustakaan umum.

Dengan aplikasi ini, akan memudahkan pelayanan dan akses informasi terhadap buku-buku perpustakaan, serta pengelolaan administrasi & sistem informasi perpustakaan. Dan tentunya, dengan sistem informasi ini, akan meningkatkan efisiensi, baik bagi pengguna dalam mencari dan menemukan buku yang mereka butuhkan, maupun efisiensi kerja bagi staf perpustakaan. Dengan penyajian informasi buku yang interaktif, tentunya dapat meningkatkan brand dan prestise perpustakaan.

Fitur Utama Program:
Katalog / Kategori Buku, program sistem informasi perpustakaan ini dapat membagi buku/makalah atau produk lain yang ingin ditampilkan pada sistem informasi perpustakaan dalam kategori-kategori terpisah, sehingga memudahkan user menemukan apa yang dibutuhkannya. Selain itu, program juga dapat membuat sebuah sub kategori dari sebuah kategori induk yang ada, sehingga memiliki tingkat kedalaman kategori.
Informasi Lengkap Buku, pada bagian informasi lengkap buku/produk, akan ditampilkan screenshoot (gambar) dari buku (jika ada), dilengkapi dengan ID pustaka, judul buku, nama pengarang, penerbit, ISBN, jumlah halaman dari buku, ukuran, jenis bahasa, sumber buku, stok buku yang tersedia serta resume singkat dari buku/produk.
Blanko Peminjaman, pengunjung dapat melakukan permohonan peminjaman terhadap buku yang ada, dimana setelah memilih buku yang diinginkan, mereka akan diminta untuk mengisi blanko permohonan peminjaman.

Setelah menekan tombol “Proses”, maka permohonan peminjaman pengunjung akan dicatat ke dalam database, sehingga pengelola dapat melihat siapa yang melakukan peminjaman.

Apabila dibutuhkan dan diaktifkan pengelola, terdapat sebuah tombol untuk mencetak blanko permohonan peminjaman tersebut, sehingga peminjam bisa membawa hasil print (cetak) ke pihak perpustakaan sebagai bukti saat melakukan pengambilan buku.
Stok (Ketersediaan) Buku, saat pengunjung melakukan proses permohonan peminjaman buku, stok (ketersediaan) buku yang tersedia belum akan berkurang.

Setelah diproses oleh pengelola, maka secara otomatis stok buku akan berkurang dengan jumlah yang dipinjam. Pemohon pinjam sendiri akan ditempatkan di bagian “Sedang Dipinjam”.

Stok buku akan direset (dikembalikan) ke nilai semula secara otomatis, ketika pengelola mengklik menu yang menandakan bahwa buku yang dipinjam telah dikembalikan, dan Peminjam akan dikelompokkan ke dalam Arsip Peminjam.
Statistik Perpustakaan, pada bagian statistik ini akan ditampilkan nama-nama yang melakukan permohonan peminjaman, sedang dipinjam dan telah mengembalikan buku yang dipinjam. Statistik sendiri akan ditampilkan dalam bentuk kalender.
Tampilan Random Buku Perpustakaan, buku-buku perpustakaan yang ada akan ditampilkan secara random (acak) dibagian kanan dan kiri situs. Saat diklik, maka pengunjung akan diarahkan langsung ke informasi lengkap buku tersebut.
Internal Search Engine, fitur yang memungkinkan pengunjung mencari data buku perpustakaan.
Informasi Terbaru, fitur ini untuk menampilkan informasi-informasi terbaru yang terkait dengan perpustakaan.
Ruangan Pengelola, merupakan ruangan tempat pengelola menambah buku, memperbaharui atau memeriksa status ketersedian buku, pengaturan keamanan dan pengaturan-pengaturan lainnya sehingga program dapat berjalan dengan baik.
Kewenangan Akses, kewenangan anggota dapat diatur menurut kebutuhan, seperti apakah yang bersangkutan sebagai anggota biasa, yang hanya dapat mengakses, sebagai seorang pengelola, atau yang lainnya.

Program sistem informasi ini sendiri memiliki tingkat kewenangan beragam terhadap masing-masing pengelola, sehingga dapat ditentukan siapa yang punya akses atau tidak terhadap suatu fitur tertentu.
Fungsi Laporan, pada ruangan pengelola di bagian informasi buku, ada fungsi yang dapat digunakan sebagai Pelaporan, dimana data-data buku, yang mengajukan permohonan peminjaman, sedang meminjam, atau arsip yang pernah meminjam, dapat dicetak dalam bentuk kertas atau dalam bentuk file Excel (.XLS)
Catatan Akses, fungsi ini akan mencatat perubahan yang dilakukan di Ruangan Pengelola oleh seorang pengelola. Catatan akan menampilkan siapa yang melakukan perubahan dan kapan perubahan dilakukan.
File Manager, fungsi ini berguna untuk memasukan langsung file screenshot (gambar) buku ke dalam folder gambar buku pustaka. Pengelola juga bisa menentukan apa saja jenis file yang boleh diupload menggunakan File Manager.
Pengelolaan User, sistem informasi ini memiliki fasilitas untuk bergabung yang bisa diaktifkan atau dinon-aktifkan oleh pengelola.
Online Help untuk Pengelola, program memiliki panduan online, yang akan mempermudah pengelola memahami fitur yang ada. Online Help yang terletak di bagian kiri bawah pada Ruangan Pengelola itu sendiri akan tampil berdasarkan fitur/menu yang diakses.
Dokumentasi Online untuk Pengelola, selain Online Help, juga tersedia sebuah dokumentasi online, yang akan menjelaskan secara singkat tentang fitur yang ada pada program. Dokumentasi Online ini terletak di Ruangan Pengelola pada bagian kanan bawah.
Menggunakan Database MySQL, sistem informasi perpustakaan berbasis web ini menggunakan database MySQL sebagai tempat penyimpanan data, sehingga gampang dikelola dan terstruktur dengan baik.
Buku Panduan, selain Online Help dan Dokumentasi Online, program ini dilengkapi dengan Buku Panduan, yang mempermudah pengelola memahami fitur-fitur yang ada pada aplikasi informasi perpustakaan berbasis web ini.
Djamboe WebDesign, CV
Jl. Joni Anwar Blok A No.9,
Padang, Sumatra Barat, 25142
Telp./Hp. +62-813-63113608
Email: marketing [at] djamboe.co.id
Website: http://www.djamboe.co.id/   | Home | Service | Features | Pustaka | Portfolio | Order | About Us | Contact |



XML Dalam Sistem Informasi Geografis Cetak E-mail
Oleh Amri Rosyada
Kita telah mengenal berbagai format proprietary dari aplikasi-aplikasi SIG yang berbeda-beda, baik dari segi vendor-nya maupun perbedaan versi dari tiap format. Lumrah saja, karena tiap vendor menginginkan format yang efisien dan sesuai dengan aplikasi yang mereka buat. Terdapat fungsi dan aplikasi untuk korvesi antar format, tapi tidak selalu memadai karena ada keunikan dari tiap format yang belum tentu dapat dikonversi ke format lain.Hal ini juga menjadi hambatan untuk webmapping , karena setiap aplikasi akan memerlukan client environment yang berbeda-beda pula. Tidak semua orang bersedia menginstall software tersendiri (applet khusus, plug-ins tertentu dll) bagi tiap aplikasi webmap yang ingin mereka lihat.

Karena perbedaan format menghambat pemanfaatan data geografis secara lebih luas, diperlukan cara pertukaran data yang dapat dipahami secara global. Fungsi ini dapat dipenuhi oleh XML (eXtensible Markup Language).

eXtensible Markup Language

XML adalah bahasa markup yang menyediakan sintaks yang lentur (dapat dikembangkan sesuai kebutuhan) dan independen (tidak tergantung sistem platform). Jadi sesuai untuk sarana pertukaran data antar berbagai ragam sistem, baik lewat internet atau jalur lain [1].

Format ini merupakan rekomendasi dari World Wide Web Consortium. XML memungkinkan untuk memuat baik data koordinat, data penyerta dan instruksi yang menyatakan jenis perlakuan terhadap data tersebut. Perlakuan itu dapat berupa transformasi data ke bentuk lain ataupun untuk menyatakan bagaimana data ditampilkan.

Penggunaan XML memungkinkan penerapan internet SIG dalam bentuk yang lebih terbuka, murah dan beragam tapi tetap kompatibel. Hal tersebut dapat diwujudkan oleh beberapa subset/turunan dari XML, yaitu SVG, XSL dan GML. Dunia XML memang penuh dengan akronim tiga huruf yang kadang membingungkan, untuk itu masing-masing akan coba dipaparkan secara singkat.

Scalable Vector Graphics

Untuk keperluan SIG, tentunya diperlukan format untuk tampilan data spasial. Karena XML bersifat general, maka untuk keperluan grafis diperkenalkan suatu subset XML yaitu SVG (Scalable Vector Graphics), suatu standar terbuka untuk grafik 2D yang merupakan rekomendasi dari W3C [2].


Peta Geologi gabungan vektor dan raster[15]

Penggunaan SVG dalam SIG telah memberikan dampak terutama terhadap aplikasi webmap. Contoh tampilan webmap interaktif yang menggunakan SVG sudah cukup banyak saat ini, seperti gambar di kiri.

SVG memungkinkan penggunaan vektor yang memberikan banyak keunggulan dibanding format raster yang selama ini kita kenal. SVG juga dilengkapi dengan SVG DOM (Document Object Model) untuk membuat peta yang interaktif. Terdapat juga spesifikasi untuk mobile devices (SVG tiny) [2] dan browser phones (pSVG) [8,9]. SVG juga dapat dikompresi sehingga menurunkan ukuran transfer secara signifikan.

Dengan kemampuan SVG untuk memuat data vektor, bitmap dan teks, orang akan menganggap hanya dengan SVG sudah cukup. Dan memang saat ini sudah banyak contoh webmap yang menggunakan SVG, baik untuk tampilan dan data penyertanya [7].

Walau demikian, ada beberapa hal yang tidak tercakup dalam spesifikasi SVG. Misalnya mengenai standar link feature terhadap data, sistem referensi spasial yang digunakan, feature buffer atau standar skema data spasial.
Memang sengaja tidak dicakup karena SVG adalah suatu format grafis umum yang tidak hanya digunakan untuk aplikasi SIG, sehingga pertukaran data secara terbuka akan rumit jika hanya mengandalkan SVG. Untuk itu diperlukan subset XML lain, yaitu GML.

Geographic Markup Language

GML adalah suatu subset XML untuk transformasi dan penyimpanan informasi geografis, baik data spatial ataupun non spatial dari suatu obyek geografis. GML adalah spesifikasi dari OpenGIS Consortium.

GML menyediakan framework yang terbuka dan independen untuk mendefinisikan obyek dan skema dari suatu aplikasi SIG. Hal ini meningkatkan kemampuan untuk berbagi skema dan informasi geografis [5]. Format ini juga berperan penting dalam implementasi Web Feature Server (WFS).

WFS adalah suatu modul yang mengimplementasikan interface standar untuk operasi data spasial yang berada dalam suatu datastore [5]. Datastore tersebut dapat berupa general SQL database, flat XML file, spasial database, proprietary format dll, dan manipulasi terhadap datanya dapat dilakukan melalui Web. HTTP server adalah server yang dapat melayani HTTP request. Aplikasi klien adalah aplikasi yang berkomunikasi dengan web server menggunakan HTTP, misalnya suatu browser.

Standar yang interoperable mempermudah klien dalam menggunakan web sebagai sarana mengakses data geografis dan servis geografis lainnya. Tentu saja, GML hanya mengatur mengenai skema dan penulisan data spasial, sedangkan untuk menampilkannya dapat menggunakan SVG.

Extensible Stylesheet Language

XSL merupakan subset dari XML yang direkomendasikan W3C untuk mendefinisikan stylesheets [3]. Suatu dokumen XML dengan struktur tertentu dapat diproses oleh suatu XSL stylesheet menjadi bentuk lain yang diinginkan. Karena XSL adalah bahasa prosedural, XSL hanya berfungsi jika diterjemahkan menggunakan XSL Transformation (XSLT) [4].

XSL dipergunakan untuk mentransformasikan data (GML) menjadi tampilan grafis di klien (SVG). Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan prosesor untuk XSLT seperti Xalan atau Saxon. Di server hal ini dapat dilakukan secara otomatis untuk menghasilkan SVG. Sedangkan di sisi klien hal ini – paling tidak saat ini – masih harus dilakukan secara manual, karena browser belum memberikan keleluasaan untuk itu.

Cara lain untuk mengubah GML menjadi SVG, adalah dengan langsung mengakses Document Object Model, baik di server ataupun di klien. Di server, dapat dilakukan dengan menggunakan servlet, atau server scripts, atau aplikasi lain yang mampu mengakses DOM dari suatu dokumen XML. Di sisi klien, cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan EcmaScript.

Peta dengan XML

Jika melihat format XML yang berupa tag-tag dalam bentuk teks, akan sulit membayangkan membuat aplikasi SIG berdasarkan XML. Tapi XML bukanlah bahasa pemrograman, melainkan data yang diproses oleh User Agent (aplikasi di server, browser dll) dengan instruksi tertentu.

Jika kita sudah memiliki data GML (baik berupa file yang dihasilkan suatu aplikasi atau stream dari web), data tersebut harus diolah lebih lanjut agar dapat ditampilkan. Dalam GML dimungkinkan untuk merujuk pada suatu skema data sehingga pemrosesan GML dilakukan berdasarkan skema tersebut.
GML kemudian dapat ditransformasikan menggunakan XSL-XSLT, yang dapat dilakukan baik di server (misalnya Cocoon) atau secara lokal (misalnya menggunakan Saxon, atau parsing menggunakan clientside script). Di masa datang diharapkan XSL dapat dilaksanakan langsung di browser.

Setelah melalui proses transformasi, file GML akan menjadi SVG yang dapat dilihat menggunakan browser. (contoh file GML, XSL dan SVG dapat dilihat di bagian akhir). Saat ini, SVG di browser masih memerlukan plug-ins, karena SVG masih merupakan format yang baru, sehingga membutuhkan waktu bagi pembuat browser untuk mengadopsi-nya. Kecuali anda menggunakan browser khusus SVG seperti Amaya atau Batik.

Proses tersebut, mulai dari data, proses dan output semuanya berupa dokumen XML. Hal lainnya adalah proses ini dapat dilakukan menggunakan software-software opensource.

Sekilas muncul pertanyaan, mengapa tidak langsung menghasilkan SVG dari database atau aplikasi lainnya? Mengapa harus melalui GML?[18] Ilustrasi berikut mengenai Web Feature Server mungkin dapat membantu.

Konsep penggunaan XML dan pertukaran data

Penggunaan format XML (dalam hal ini GML) sangat penting karena berfungsi sebagai jembatan, terutama untuk penerapan Web Feature Server[14].
Dari binary ke teks

Sampai di sini mungkin masih ada yang mengganjal. Bagaimana mengubah data-data SIG yang sudah ada dan umumnya dalam bentuk binary ke XML? Hal ini masih harus dilakukan karena saat ini data-data SIG umumnya adalah dalam format proprietary (shapefile/dbf, mif/mid dll) yang berupa binary.

Beberapa cara yang dilakukan antara lain :

  • Dapat menggunakan bahasa pemrograman/script yang terdapat pada aplikasi SIG untuk mengambil data-data dan menghasilkan format XML (misalnya avenue pada ArcView 3.x, VB pada ArcGIS, atau mapBasic pada MapIfo).
  • Memasukkan data SIG dalam database, dan membuat file XML baik dengan fungsi yang ada pada database atau dengan bantuan aplikasi lain (PHP, perl, JSP, XSQL, XSL dll) [10].
  • Jika tidak memiliki software SIG, dapat membuat sendiri program yang membaca format binary, kemudian dieksport ke XML atau database. Ada juga aplikasi opensource maupun komersial yang dapat melakukan hal ini untuk beberapa format binary SIG [13].
  • Menggunakan aplikasi yang berjalan di server untuk membaca format binary dan langsung di-stream melalui web dalam bentuk GML.

Di masa datang hal ini akan lebih mudah, karena vendor applikasi SIG akan mengadopsi format XML atau turunannya baik untuk proses import atau export. Selain itu perkembangan teknologi GPS memungkinkan untuk langsung memproses data koordinat [11].

XML bukan hanya sekedar suatu format data, dan memang tidak didesain sebagai format penyimpanan semata. Data-data aplikasi SIG besar kemungkinan akan tetap menggunakan format proprietary, karena masing-masing vendor aplikasi SIG mempunyai pertimbangannya masing-masing (efisiensi, investasi yang ditanam dalam format tsb, proteksi dll). XML lebih berguna sebagai sarana pertukaran baik offline atau online.

Untuk database, perlu dipertimbangkan bahwa data XML bersifat hirarkis, sedangkan database relational. Selain itu database saat ini sudah ada yang memiliki kemampuan spasial. Jadi penyimpanan di database akan lebih memadai, dan struktur database-nya terserah kepada masing-masing pihak. Hasil query dapat disusun dan dikirim kepada klien dalam format XML tertentu yang sesuai [10].

Keuntungan penggunaan XML dalam SIG

Dengan segala kerepotan ini, keuntungan apa yang dapat diambil? Banyak sekali.

  • Format yang berupa standar terbuka.
  • Peta berbasiskan vektor dengan kualitas grafis yang baik.
  • Fasilitas DOM untuk modifikasi dokumen dan interaksi dengan pengguna.
  • Lebih hemat bandwith.
  • Extensible dengan berbagai teknologi di server (servlets, JSP, ASP, PHP, Pearl dll).
  • Konfigurasi sistem klien yang generik dan fleksibel.
  • Penerapan konsep pemisahan isi dari style, berarti memudahkan manajemen data.
  • Implementasi SIG yang tidak memerlukan biaya besar, lebih terjangkau oleh semua pihak.
  • Klien yang berdasarkan pada interface standar memungkinkan koneksi ke berbagai server, database, web service dll.
  • Memungkinkan adanya desentralisasi data geografis dengan pendekatan bottom up [6].
  • Data yang terdistribusi di berbagai tempat dapat diekstrak kemudian diintegrasikan secara mudah, selama tetap menggunakan format pertukaran standar.
  • Membuka peluang bagi terciptanya Sistem Informasi Kolaboratif [12].
  • Integrasi dengan non-GIS software, karena XML merambah ke semua bidang. Basis pengguna SIG bertambah luas.
  • Interaksi SIG dengan bidang lain secara lebih luas, dan penggunaan SIG untuk bidang yang selama ini belum terjamah SIG.

Beberapa keuntungan diatas memang dapat tercapai jika penggunaan XML telah diadopsi secara luas, yang diyakini hanya masalah waktu saja.

Hambatan

- Penggunaan XML belum mencapai tahap massal.
- SVG masih belum disupport secara native di beberapa browser, jadi saat ini masih memerlukan plugins.
Hal diatas memang wajar terjadi karena ada rentang waktu yang diperlukan dalam setiap pengadopsian teknologi baru.
- Masalah HAKI, tidak semua data disediakan untuk publik.
- Masalah organisasi dari institusi/badan/perusahaan untuk berkolaborasi bersama-sama.
- Kesenjangan teknologi informasi yang kita alami di Indonesia (istilah gagahnya adalah digital divide), baik di tingkat bawah, menengah dan atas.

Penutup

Seperti juga pada bidang lain, XML akan membawa SIG kepada penerapan standar terbuka yang memudahkan akses dan pertukaran data geografis. Hal ini memungkinkan terciptanya kerjasama yang lebih terintegrasi antara pihak-pihak yang langsung terkait dengan SIG, juga dengan pihak lain yang selama ini belum memanfaatkan dan dimanfaatkan untuk SIG.
Sisi lain adalah penerapan yang mudah dan murah akan bermanfaat terutama bagi yang memiliki sumberdaya terbatas. Bertambahnya pengguna SIG akan mendorong pengembangan SIG dari bawah, dengan partisipasi aktif masyarakat dalam melakukan self-survey



XML Dalam Sistem Informasi Geografis Cetak E-mail
Oleh Amri Rosyada
Kita telah mengenal berbagai format proprietary dari aplikasi-aplikasi SIG yang berbeda-beda, baik dari segi vendor-nya maupun perbedaan versi dari tiap format. Lumrah saja, karena tiap vendor menginginkan format yang efisien dan sesuai dengan aplikasi yang mereka buat. Terdapat fungsi dan aplikasi untuk korvesi antar format, tapi tidak selalu memadai karena ada keunikan dari tiap format yang belum tentu dapat dikonversi ke format lain.Hal ini juga menjadi hambatan untuk webmapping , karena setiap aplikasi akan memerlukan client environment yang berbeda-beda pula. Tidak semua orang bersedia menginstall software tersendiri (applet khusus, plug-ins tertentu dll) bagi tiap aplikasi webmap yang ingin mereka lihat.

Karena perbedaan format menghambat pemanfaatan data geografis secara lebih luas, diperlukan cara pertukaran data yang dapat dipahami secara global. Fungsi ini dapat dipenuhi oleh XML (eXtensible Markup Language).

eXtensible Markup Language

XML adalah bahasa markup yang menyediakan sintaks yang lentur (dapat dikembangkan sesuai kebutuhan) dan independen (tidak tergantung sistem platform). Jadi sesuai untuk sarana pertukaran data antar berbagai ragam sistem, baik lewat internet atau jalur lain [1].

Format ini merupakan rekomendasi dari World Wide Web Consortium. XML memungkinkan untuk memuat baik data koordinat, data penyerta dan instruksi yang menyatakan jenis perlakuan terhadap data tersebut. Perlakuan itu dapat berupa transformasi data ke bentuk lain ataupun untuk menyatakan bagaimana data ditampilkan.

Penggunaan XML memungkinkan penerapan internet SIG dalam bentuk yang lebih terbuka, murah dan beragam tapi tetap kompatibel. Hal tersebut dapat diwujudkan oleh beberapa subset/turunan dari XML, yaitu SVG, XSL dan GML. Dunia XML memang penuh dengan akronim tiga huruf yang kadang membingungkan, untuk itu masing-masing akan coba dipaparkan secara singkat.

Scalable Vector Graphics

Untuk keperluan SIG, tentunya diperlukan format untuk tampilan data spasial. Karena XML bersifat general, maka untuk keperluan grafis diperkenalkan suatu subset XML yaitu SVG (Scalable Vector Graphics), suatu standar terbuka untuk grafik 2D yang merupakan rekomendasi dari W3C [2].


Peta Geologi gabungan vektor dan raster[15]

Penggunaan SVG dalam SIG telah memberikan dampak terutama terhadap aplikasi webmap. Contoh tampilan webmap interaktif yang menggunakan SVG sudah cukup banyak saat ini, seperti gambar di kiri.

SVG memungkinkan penggunaan vektor yang memberikan banyak keunggulan dibanding format raster yang selama ini kita kenal. SVG juga dilengkapi dengan SVG DOM (Document Object Model) untuk membuat peta yang interaktif. Terdapat juga spesifikasi untuk mobile devices (SVG tiny) [2] dan browser phones (pSVG) [8,9]. SVG juga dapat dikompresi sehingga menurunkan ukuran transfer secara signifikan.

Dengan kemampuan SVG untuk memuat data vektor, bitmap dan teks, orang akan menganggap hanya dengan SVG sudah cukup. Dan memang saat ini sudah banyak contoh webmap yang menggunakan SVG, baik untuk tampilan dan data penyertanya [7].

Walau demikian, ada beberapa hal yang tidak tercakup dalam spesifikasi SVG. Misalnya mengenai standar link feature terhadap data, sistem referensi spasial yang digunakan, feature buffer atau standar skema data spasial.
Memang sengaja tidak dicakup karena SVG adalah suatu format grafis umum yang tidak hanya digunakan untuk aplikasi SIG, sehingga pertukaran data secara terbuka akan rumit jika hanya mengandalkan SVG. Untuk itu diperlukan subset XML lain, yaitu GML.

Geographic Markup Language

GML adalah suatu subset XML untuk transformasi dan penyimpanan informasi geografis, baik data spatial ataupun non spatial dari suatu obyek geografis. GML adalah spesifikasi dari OpenGIS Consortium.

GML menyediakan framework yang terbuka dan independen untuk mendefinisikan obyek dan skema dari suatu aplikasi SIG. Hal ini meningkatkan kemampuan untuk berbagi skema dan informasi geografis [5]. Format ini juga berperan penting dalam implementasi Web Feature Server (WFS).

WFS adalah suatu modul yang mengimplementasikan interface standar untuk operasi data spasial yang berada dalam suatu datastore [5]. Datastore tersebut dapat berupa general SQL database, flat XML file, spasial database, proprietary format dll, dan manipulasi terhadap datanya dapat dilakukan melalui Web. HTTP server adalah server yang dapat melayani HTTP request. Aplikasi klien adalah aplikasi yang berkomunikasi dengan web server menggunakan HTTP, misalnya suatu browser.

Standar yang interoperable mempermudah klien dalam menggunakan web sebagai sarana mengakses data geografis dan servis geografis lainnya. Tentu saja, GML hanya mengatur mengenai skema dan penulisan data spasial, sedangkan untuk menampilkannya dapat menggunakan SVG.

Extensible Stylesheet Language

XSL merupakan subset dari XML yang direkomendasikan W3C untuk mendefinisikan stylesheets [3]. Suatu dokumen XML dengan struktur tertentu dapat diproses oleh suatu XSL stylesheet menjadi bentuk lain yang diinginkan. Karena XSL adalah bahasa prosedural, XSL hanya berfungsi jika diterjemahkan menggunakan XSL Transformation (XSLT) [4].

XSL dipergunakan untuk mentransformasikan data (GML) menjadi tampilan grafis di klien (SVG). Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan prosesor untuk XSLT seperti Xalan atau Saxon. Di server hal ini dapat dilakukan secara otomatis untuk menghasilkan SVG. Sedangkan di sisi klien hal ini – paling tidak saat ini – masih harus dilakukan secara manual, karena browser belum memberikan keleluasaan untuk itu.

Cara lain untuk mengubah GML menjadi SVG, adalah dengan langsung mengakses Document Object Model, baik di server ataupun di klien. Di server, dapat dilakukan dengan menggunakan servlet, atau server scripts, atau aplikasi lain yang mampu mengakses DOM dari suatu dokumen XML. Di sisi klien, cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan EcmaScript.

Peta dengan XML

Jika melihat format XML yang berupa tag-tag dalam bentuk teks, akan sulit membayangkan membuat aplikasi SIG berdasarkan XML. Tapi XML bukanlah bahasa pemrograman, melainkan data yang diproses oleh User Agent (aplikasi di server, browser dll) dengan instruksi tertentu.

Jika kita sudah memiliki data GML (baik berupa file yang dihasilkan suatu aplikasi atau stream dari web), data tersebut harus diolah lebih lanjut agar dapat ditampilkan. Dalam GML dimungkinkan untuk merujuk pada suatu skema data sehingga pemrosesan GML dilakukan berdasarkan skema tersebut.
GML kemudian dapat ditransformasikan menggunakan XSL-XSLT, yang dapat dilakukan baik di server (misalnya Cocoon) atau secara lokal (misalnya menggunakan Saxon, atau parsing menggunakan clientside script). Di masa datang diharapkan XSL dapat dilaksanakan langsung di browser.

Setelah melalui proses transformasi, file GML akan menjadi SVG yang dapat dilihat menggunakan browser. (contoh file GML, XSL dan SVG dapat dilihat di bagian akhir). Saat ini, SVG di browser masih memerlukan plug-ins, karena SVG masih merupakan format yang baru, sehingga membutuhkan waktu bagi pembuat browser untuk mengadopsi-nya. Kecuali anda menggunakan browser khusus SVG seperti Amaya atau Batik.

Proses tersebut, mulai dari data, proses dan output semuanya berupa dokumen XML. Hal lainnya adalah proses ini dapat dilakukan menggunakan software-software opensource.

Sekilas muncul pertanyaan, mengapa tidak langsung menghasilkan SVG dari database atau aplikasi lainnya? Mengapa harus melalui GML?[18] Ilustrasi berikut mengenai Web Feature Server mungkin dapat membantu.

Konsep penggunaan XML dan pertukaran data

Penggunaan format XML (dalam hal ini GML) sangat penting karena berfungsi sebagai jembatan, terutama untuk penerapan Web Feature Server[14].
Dari binary ke teks

Sampai di sini mungkin masih ada yang mengganjal. Bagaimana mengubah data-data SIG yang sudah ada dan umumnya dalam bentuk binary ke XML? Hal ini masih harus dilakukan karena saat ini data-data SIG umumnya adalah dalam format proprietary (shapefile/dbf, mif/mid dll) yang berupa binary.

Beberapa cara yang dilakukan antara lain :

  • Dapat menggunakan bahasa pemrograman/script yang terdapat pada aplikasi SIG untuk mengambil data-data dan menghasilkan format XML (misalnya avenue pada ArcView 3.x, VB pada ArcGIS, atau mapBasic pada MapIfo).
  • Memasukkan data SIG dalam database, dan membuat file XML baik dengan fungsi yang ada pada database atau dengan bantuan aplikasi lain (PHP, perl, JSP, XSQL, XSL dll) [10].
  • Jika tidak memiliki software SIG, dapat membuat sendiri program yang membaca format binary, kemudian dieksport ke XML atau database. Ada juga aplikasi opensource maupun komersial yang dapat melakukan hal ini untuk beberapa format binary SIG [13].
  • Menggunakan aplikasi yang berjalan di server untuk membaca format binary dan langsung di-stream melalui web dalam bentuk GML.

Di masa datang hal ini akan lebih mudah, karena vendor applikasi SIG akan mengadopsi format XML atau turunannya baik untuk proses import atau export. Selain itu perkembangan teknologi GPS memungkinkan untuk langsung memproses data koordinat [11].

XML bukan hanya sekedar suatu format data, dan memang tidak didesain sebagai format penyimpanan semata. Data-data aplikasi SIG besar kemungkinan akan tetap menggunakan format proprietary, karena masing-masing vendor aplikasi SIG mempunyai pertimbangannya masing-masing (efisiensi, investasi yang ditanam dalam format tsb, proteksi dll). XML lebih berguna sebagai sarana pertukaran baik offline atau online.

Untuk database, perlu dipertimbangkan bahwa data XML bersifat hirarkis, sedangkan database relational. Selain itu database saat ini sudah ada yang memiliki kemampuan spasial. Jadi penyimpanan di database akan lebih memadai, dan struktur database-nya terserah kepada masing-masing pihak. Hasil query dapat disusun dan dikirim kepada klien dalam format XML tertentu yang sesuai [10].

Keuntungan penggunaan XML dalam SIG

Dengan segala kerepotan ini, keuntungan apa yang dapat diambil? Banyak sekali.

  • Format yang berupa standar terbuka.
  • Peta berbasiskan vektor dengan kualitas grafis yang baik.
  • Fasilitas DOM untuk modifikasi dokumen dan interaksi dengan pengguna.
  • Lebih hemat bandwith.
  • Extensible dengan berbagai teknologi di server (servlets, JSP, ASP, PHP, Pearl dll).
  • Konfigurasi sistem klien yang generik dan fleksibel.
  • Penerapan konsep pemisahan isi dari style, berarti memudahkan manajemen data.
  • Implementasi SIG yang tidak memerlukan biaya besar, lebih terjangkau oleh semua pihak.
  • Klien yang berdasarkan pada interface standar memungkinkan koneksi ke berbagai server, database, web service dll.
  • Memungkinkan adanya desentralisasi data geografis dengan pendekatan bottom up [6].
  • Data yang terdistribusi di berbagai tempat dapat diekstrak kemudian diintegrasikan secara mudah, selama tetap menggunakan format pertukaran standar.
  • Membuka peluang bagi terciptanya Sistem Informasi Kolaboratif [12].
  • Integrasi dengan non-GIS software, karena XML merambah ke semua bidang. Basis pengguna SIG bertambah luas.
  • Interaksi SIG dengan bidang lain secara lebih luas, dan penggunaan SIG untuk bidang yang selama ini belum terjamah SIG.

Beberapa keuntungan diatas memang dapat tercapai jika penggunaan XML telah diadopsi secara luas, yang diyakini hanya masalah waktu saja.

Hambatan

- Penggunaan XML belum mencapai tahap massal.
- SVG masih belum disupport secara native di beberapa browser, jadi saat ini masih memerlukan plugins.
Hal diatas memang wajar terjadi karena ada rentang waktu yang diperlukan dalam setiap pengadopsian teknologi baru.
- Masalah HAKI, tidak semua data disediakan untuk publik.
- Masalah organisasi dari institusi/badan/perusahaan untuk berkolaborasi bersama-sama.
- Kesenjangan teknologi informasi yang kita alami di Indonesia (istilah gagahnya adalah digital divide), baik di tingkat bawah, menengah dan atas.

Penutup

Seperti juga pada bidang lain, XML akan membawa SIG kepada penerapan standar terbuka yang memudahkan akses dan pertukaran data geografis. Hal ini memungkinkan terciptanya kerjasama yang lebih terintegrasi antara pihak-pihak yang langsung terkait dengan SIG, juga dengan pihak lain yang selama ini belum memanfaatkan dan dimanfaatkan untuk SIG.
Sisi lain adalah penerapan yang mudah dan murah akan bermanfaat terutama bagi yang memiliki sumberdaya terbatas. Bertambahnya pengguna SIG akan mendorong pengembangan SIG dari bawah, dengan partisipasi aktif masyarakat dalam melakukan self-survey



et cetera